Sabtu, 17 November 2012

Berapa lama ?

Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; begitulah kira-kira kata Pengkhotbah. Hidup manusia di dunia tidak berlangsung selamanya. Hidup memiliki jangka waktu (terbatas), jangka waktu yang berbeda-beda bagi setiap manusia.

Seandainya kita menyadari dengan sungguh bahwa waktu untuk hidup di dunia begitu singkat, tentunya kita akan melakukan dan mengusahakan segala hal dengan sebaik mungkin. Kita tidak akan pernah menyia-nyiakan waktu yg ada walau hanya sedetik. Pikiran kita akan memiliki pola pikir bahwa waktu merupakan "kesempatan" yg begitu berharga. Kesempatan untuk melakukan banyak hal, mengerjakan ini dan itu. Dan jika kesempatan ini berlalu dengan sia-sia dan waktu hanya kita habiskan untuk hal yang tidak berguna, maka penyesalanlah yang tentunya akan kita dapatkan dikemudian hari. Mengapa kita menyesal? Karena realita hidup mengajarkan bahwa waktu tidak dapat kita ulangi dengan cara apapun. Harta, kekayaan, hikmat dan kebijaksanaan manusia tidak mampu untuk memutar kembali waktu yang telah berlalu. Kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Kesempatan yang telah disia-siakan tidak dapat diperbaiki.

Sayangnya tidak banyak orang yang menyadari bahwa waktu hidup di dunia adalah waktu yang singkat. Masa hidup manusia tujuh puluh tahun dan jika kita kuat, delapan puluh tahun (Maz 90:10). Apakah tujuh puluh tahun atau delapan puluh tahun adalah waktu yang lama? Tujuh atau delapan puluh tahun sepertinya terlihat sebagai masa yang lama. Tapi coba kita renungkan kembali, benarkah ini adalah masa yang lama?

Saat kita masih remaja, kita berpikir "ah, saya masih muda, baru 17 tahun, hidup saya masih lama, masih ada 50 atau 60 tahun lagi". Saat kita dewasa, kita juga berpikir hal yang sama "hi-dup sa-ya ma-sih la-ma". Pola pikiran manusia umumnya berpikir bahwa ketika ia telah berada pada usia yang telah lanjut atau tidak produktif lagi barulah ia dapat mengatakan "hidup saya tidak lama lagi". Umur yang telah lanjut usia (tua) umumnya merupakan tolak ukur batas waktu kehidupan manusia.

Namun adakah manusia di dunia ini yang tahu berapa lama dia akan hidup?

Adakah manusia di dunia ini yang tahu sisa waktu hidupnya?

Adakah manusia di dunia ini yang tahu kapan ia akan mati? Apakah dia akan mati pada usia tua ataukah pada usia muda? Apakah 10 tahun lagi? 1 tahun lagi? Besok? Atau malahan hari ini?

TIDAK ADA! Tidak ada yang tahu.

Lantas, beranikah kita berkata "hidup saya masih lama" ?

Tidak ada seorangpun yang tahu masa hidupnya. Hanya Tuhan yang tahu.

Jika kita masih hidup hingga detik ini, semuanya hanya karena anugrah Tuhan. Oleh sebab itu sudah seharusnya waktu kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat yang memuliakan nama Tuhan dan bukannya kita "habiskan" untuk hal-hal yang sia-sia dan mengecewakan hati-Nya.

Seandainya besok adalah waktu terakhir kita, seandainya besok kita akan berhadapan muka dengan muka dengan Dia, sudah siapkah kita?



Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, 
hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
(Mazmur 90:12)